KEPULAUAN RIAU — Keputusan ini menjadi gelombang PHK terbesar Uber sejak pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Setelah restrukturisasi, total karyawan Uber diperkirakan menyusut menjadi kurang dari 30.000 orang, dengan jumlah manajer dipangkas hingga 20 persen.
Alasan di Balik PHK Massal Uber
CEO Uber Dara Khosrowshahi menyebut pertumbuhan bisnis yang pesat justru membuat struktur perusahaan menjadi terlalu kompleks dan lambat dalam pengambilan keputusan. Lewat memo internal yang dikutip Reuters, ia menjelaskan bahwa struktur yang dulu efektif saat perusahaan masih kecil kini tidak lagi cocok dengan skala operasional yang sudah sebesar sekarang.
"Pertumbuhan juga membawa kompleksitas: lebih banyak lapisan, lebih banyak koordinasi, kepemilikan yang lebih terfragmentasi, dan dalam beberapa kasus struktur yang dulu masuk akal ketika bisnis masih kecil tetapi tidak lagi cocok dengan skala kami saat ini," tulis Khosrowshahi.
Perusahaan juga akan memperketat kebijakan kerja jarak jauh. Posisi yang sepenuhnya remote hanya akan tersedia untuk kurang dari 1% karyawan, menandakan pergeseran menuju model kerja yang lebih terpusat.
PHK demi Dana Pengembangan Robotaksi
Menariknya, PHK ini terjadi saat fundamental bisnis Uber tidak sedang bermasalah. Pendapatan perusahaan terus bertumbuh, namun dana hasil penghematan akan dialihkan ke area yang dinilai punya peluang pertumbuhan terbesar, termasuk inovasi mobilitas otonom yang tengah bersaing ketat dengan layanan robotaxi milik Waymo dan Tesla.
Uber berencana mengucurkan dana lebih dari USD 10 miliar dalam beberapa tahun ke depan untuk memperluas bisnis kendaraan otonomnya. Perusahaan menggandeng sejumlah pemain robotaxi dan menempatkan Waymo sebagai salah satu mitra strategis utamanya.
Alih-alih menyebut robotaxi atau kecerdasan buatan sebagai pemicu langsung PHK, Khosrowshahi justru menegaskan bahwa efisiensi ini adalah langkah strategis untuk memenangkan kompetisi jangka panjang. Artinya, robotaxi lebih tepat diposisikan sebagai konteks besar di balik perubahan struktur, bukan biang keladi tunggal pemecatan.
Ekspansi Bisnis Pengiriman dan Masa Depan Ride-Hailing
Di luar layanan ride-hailing, Uber kini juga gencar memperbesar lini bisnis pengiriman dan terus melakukan investasi serta akuisisi untuk menyaingi layanan seperti DoorDash dan Instacart.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana industri transportasi online global mulai bertransisi dari model yang sepenuhnya bergantung pada pengemudi manusia menuju layanan yang semakin mengandalkan kendaraan otonom. Meski Uber sudah tidak mengoperasikan layanannya secara langsung di Indonesia sejak bisnis Asia Tenggaranya dilepas ke Grab pada 2018, arah strategi perusahaan ini tetap penting dipantau—terutama karena perubahan model bisnis serupa berpotensi memengaruhi cara industri esports dan game mengelola turnamen, logistik, hingga distribusi konten di masa depan.