KEPULAUAN RIAU — Vespa 400 menempati posisi unik dalam sejarah otomotif. Diproduksi oleh Piaggio melalui pabriknya di Prancis, A.C.M.A. (Ateliers de Construction de Motocycles et d'Automobiles), mobil ini lahir dari ambisi Vespa untuk menjaring pengguna skuter yang ingin "naik kelas" ke kendaraan roda empat.
Mobil ini diumumkan di Paris Salon 1956 dan debut resminya digelar di Monako pada 1957. Menariknya, peluncuran tersebut disebut melibatkan tiga pembalap grand prix terkenal, meski hingga kini identitas mereka tidak pernah terungkap jelas.
Mesin Dua Tak 394 cc dengan Sistem Pelumasan Khusus
Vespa 400 mengusung mesin dua tak twin-cylinder berpendingin udara berkubikasi 394 cc yang menggerakkan roda belakang. Kecepatan maksimumnya sekitar 55 mph atau setara 88 km/jam.
Tahun produksi pertama sempat diwarnai masalah pelumasan. Mesin dua tak butuh campuran oli-bensin dengan rasio 50:1, sementara pompa bensin umumnya hanya menyediakan rasio 20:1. Piaggio kemudian memperbaiki masalah ini dengan menambahkan sistem metering oli pada model tahun berikutnya.
Fitur uniknya termasuk atap kain yang bisa digulung dan laci tersembunyi di bagian depan mobil untuk menyimpan baterai 12 volt. Tersedia dalam enam pilihan warna.
Harga Setara Sepertiga Volkswagen Beetle di Amerika
Di pasar Amerika Serikat, Vespa 400 dibanderol sekitar US$1.135 termasuk pajak dan biaya lisensi. Nilai itu setara dengan sekitar Rp 208 juta jika dikonversi ke kurs saat ini dan sebanding dengan sepertiga harga Volkswagen Beetle kala itu.
Data penjualan di AS mencatat 514 unit terjual pada 1959 dan meningkat menjadi 1.138 unit pada 1960. Namun angka penjualan mulai merosot pada 1961, bertepatan dengan keputusan Piaggio menghentikan produksi.
Total Produksi 30.000 Unit, Kalah Bersaing dengan Fiat 500 dan Mini
Total produksi Vespa 400 mencapai sekitar 30.000 unit. Jumlah ini jauh di bawah klaim sebuah perusahaan distribusi Amerika pada Juli 1959 yang menyebut lebih dari 50.000 unit telah terjual di Prancis.
Vespa 400 harus berhadapan dengan kompetisi ketat dari Fiat 500 yang meluncur hanya empat bulan setelahnya, ditambah Mini dan Citroën 2CV yang sudah lebih dulu mapan di pasar Eropa. Posisinya semakin sulit karena hadir di dunia pasca-perang yang sudah dipenuhi mobil-mobil kecil sejenis.
Catatan Pribadi D'Ascanio: Lebih Baik Fokus pada Skuter
Keputusan menghentikan produksi pada 1961 tertuang dalam catatan pribadi Corradino D'Ascanio, desainer Vespa, yang tersimpan di arsip historis perusahaan. Ia menilai kompetitor roda dua justru akan menjadi iklan efektif bagi Vespa, sementara kompetisi di segmen roda empat melibatkan persaingan global yang jauh lebih berat.
Piaggio tidak pernah membuat mobil lagi setelah Vespa 400. Pabrikan Italia itu hanya melanjutkan produksi kendaraan roda tiga mirip skuter yang dikenal sebagai Ape.
Keputusan bisnis Piaggio terbukti tepat. Skuter Vespa terus merajai pasar global, sementara Vespa 400 dikenang sebagai percobaan singkat yang menggemaskan—mobil mungil yang lahir di waktu yang kurang tepat, di tengah gempuran para raksasa mini car Eropa.