KEPULAUAN RIAU — Keputusan kontroversial diambil di tengah proses pembangunan USS Doris Miller yang sudah berjalan. Memo dari Gedung Putih memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menyusun rencana dalam 60 hari guna mengganti sistem peluncuran elektromagnetik dengan katapel bertenaga uap, teknologi yang dipakai kapal induk kelas Nimitz sejak dekade 1970-an.
Sistem EMALS bekerja seperti kereta peluru berkecepatan tinggi yang meluncurkan jet menggunakan medan magnet, bukan uap bertekanan. Secara teknis, sistem ini jauh lebih sederhana dibandingkan katapel uap yang terdiri dari ratusan katup, pengatur tekanan, dan piston raksasa.
Bryan Clark, peneliti dari Hudson Institute, menyebut keunggulan EMALS sudah terbukti di kapal induk USS Gerald R. Ford. "Sistem elektromagnetik terbukti lebih mudah dioperasikan dan lebih hemat biaya dalam hal personel serta pemeliharaan. Jadi, Angkatan Laut menghemat USD 100 juta per tahun pada kapal induk kelas Ford," ujarnya.
Trump membela keputusannya dengan meragukan ketahanan teknologi magnetik di kondisi laut ekstrem. "Teknologinya tak sebaik itu, terlalu rumit. Ketika sedikit air mengenai magnet, sistem tidak berfungsi lagi. Anda berada di Samudra Atlantik dengan ombak setinggi 60 kaki," klaimnya merujuk insiden yang disebutnya memaksa kapal kembali ke pelabuhan.
Namun, perintah ini memicu masalah baru yang lebih pelik: menghidupkan kembali industri katapel uap yang sudah mati. Chris Cavas, jurnalis veteran peliput militer, menegaskan tidak ada lagi produsen katapel uap di AS. "Mereka tidak perlu membuat katapel uap baru sejak era George H. W. Bush. Sudah lama sekali dan seluruh infrastrukturnya hilang," katanya. Menghidupkan kembali lini produksi ini diperkirakan memakan biaya puluhan juta dolar dan waktu bertahun-tahun.
Konsekuensi terbesar justru menimpa USS Doris Miller yang konstruksinya sudah berjalan. Kapal tersebut harus dirancang ulang total untuk mengakomodasi sistem uap yang membutuhkan ruang mesin lebih besar dan tangki penyimpanan air. Biaya desain ulang ini diperkirakan mencapai miliaran dolar dan dapat menggeser jadwal operasional kapal dari perkiraan awal tahun 2034 ke akhir dekade ini.
Kritik keras datang dari Senator Mark Kelly, pensiunan kapten Angkatan Laut. "Saya telah meluncur dari geladak depan kapal induk dan merasakan perbedaannya. Sistem elektromagnetik terasa lebih mulus," tegasnya, merespons anggapan bahwa teknologi uap lebih andal.
Keputusan ini menjadi ironi di tengah modernisasi militer global, di mana negara-negara seperti Tiongkok justru mengadopsi teknologi elektromagnetik untuk kapal induk terbaru mereka. Langkah mundur AS ini dinilai para pengamat sebagai keputusan politik yang mengabaikan pertimbangan teknis dan anggaran jangka panjang.