Maulid Nabi di Kepri Bukan Sekadar Peringatan, Momentum Menjaga Lisan dari Ucapan yang Menyakiti

Penulis: Fadhli Usman  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 07:46:31 WIB
Umat Islam di Kepulauan Riau menghadiri peringatan Maulid Nabi di Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG — Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam di Kepulauan Riau kembali dipertemukan dengan momentum peringatan Maulid Nabi. Namun, peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini tidaklah cukup dimaknai sebagai tradisi tahunan, berkumpul, mendengar ceramah, lalu menikmati hidangan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, menata hati, dan bertanya sejauh mana kita mengenal serta meneladani Rasulullah.

Dasar Kecintaan kepada Rasulullah dalam Al-Quran

Landasan untuk mencintai dan meneladani Rasulullah sangat jelas termaktub dalam Al-Quran. Dalam QS Al-Ahzab ayat 21, Allah berfirman bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah. Ayat lain, QS Al-Anbiya ayat 107, menegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Pujian atas akhlak beliau pun langsung disematkan Allah dalam QS Al-Qalam ayat 4 yang menyebut bahwa beliau benar-benar berbudi pekerti yang agung. Bahkan, cara mencintai Rasulullah diarahkan secara gamblang dalam QS Ali Imran ayat 31, yakni dengan mengikuti sunnahnya sebagai bukti cinta kepada Allah.

Ayat-ayat tersebut mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah tidak cukup dengan mengagungkan namanya. Cinta harus menemukan jalannya dalam keteladanan. Maulid tidak berhenti pada mengenang, tetapi bergerak menuju mengikuti.

Memaknai Perbedaan Maulid dan Maulud

Dalam khazanah bahasa Arab, istilah maulid dan maulud memiliki makna yang berbeda. Maulid berkaitan dengan waktu, tempat, atau peristiwa kelahiran, termasuk peringatannya. Sementara maulud menunjuk kepada sosok yang dilahirkan, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka, perhatian dalam peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara. Fokus utama harus kembali kepada maulud yang kita cintai, dari sanalah kita belajar tentang kejujuran, kesabaran, kasih sayang, keberanian, amanah, dan akhlak mulia.

Refleksi "Mulut": Antara Pujian dan Cacian

Di sinilah refleksi menjadi menarik. Mulut adalah bagian kecil dari tubuh, tetapi pengaruhnya bisa sangat besar. Pepatah lama mengatakan, "mulutmu harimaumu." Banyak hubungan yang retak bukan karena pukulan, banyak persahabatan berakhir bukan karena permusuhan, dan silaturahmi pun terkadang putus hanya karena beberapa kalimat yang terlanjur keluar dan tidak mungkin ditarik kembali.

Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk memeriksa mulut kita sendiri. Sudahkah kata-kata yang keluar menyejukkan, memaafkan, menguatkan, dan memotivasi? Atau justru lebih sering menyindir, merendahkan, membuka aib, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau menyakiti hati orang lain?

Ironisnya, kita sedang memperingati seorang Rasul yang dikenal karena kemuliaan akhlaknya, tetapi lidah kita masih mudah mencaci orang lain. Kita melantunkan pujian kepada Rasulullah, namun masih ringan menyebarkan kebencian. Kita berbicara tentang kelembutan beliau, tetapi keras kepada keluarga, tetangga, bawahan, bahkan kepada orang yang berbeda pandangan.

Padahal Rasulullah mengajarkan agar seorang Muslim berkata baik atau memilih diam. Diam bukan berarti kalah, melainkan bentuk kemenangan seseorang atas egonya sendiri. Sebab tidak semua yang kita tahu harus dikatakan, tidak semua yang kita rasakan harus diumbar, dan tidak semua kesalahan orang lain harus menjadi bahan pembicaraan.

Mulut sebagai Alat Kebaikan

Namun, mulut juga mempunyai tugas yang sangat mulia. Dari mulut para ulama, guru, dai, dan penceramah lahir nasihat yang dapat menghidupkan hati. Dari lisan seorang ayah, ibu, pemimpin, atau sahabat, bisa lahir kalimat sederhana yang mengubah arah hidup seseorang.

Karena itu, ceramah Maulid jangan hanya menjadi rangkaian kata indah di telinga lalu hilang ketika meninggalkan tempat acara. Penceramah memiliki tanggung jawab menyampaikan dengan ilmu dan ketulusan, sementara pendengar bertanggung jawab menangkap pesan dan menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ukuran Keberhasilan Sebuah Maulid

Ukuran keberhasilan sebuah Maulid bukan terletak pada panjangnya ceramah, ramainya acara, atau banyaknya makanan yang tersaji. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah acara selesai. Apakah ada hati yang menjadi lebih lembut, ada orang yang berniat memperbaiki diri, ada lisan yang mulai dijaga, dan ada hubungan yang kembali diperbaiki?

Nasihat yang baik seharusnya tidak hanya membuat terharu sesaat, tetapi juga mengubah cara berpikir, membangun sikap mental, dan mendorong menjadi manusia yang lebih baik. Kritik dan saran pun semestinya diterima sebagai bagian dari proses perbaikan diri, bukan justru menjadi pemicu perpecahan.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: kepri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top