KEPULAUAN RIAU — Sejumlah senator Partai Republik menyuarakan kekecewaan mereka secara terbuka. Bill Cassidy, Senator dari Louisiana, menyebut kesepakatan itu sebagai "kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade." Ia membandingkan situasi sebelum dan sesudah konflik dengan Iran.
"Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup. Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga telah membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir telah berhenti," tulis Cassidy di platform media sosial X, Jumat (19/6/2026), seperti dikutip kantor berita AFP.
Dana 300 Miliar Dolar: Imbalan Tanpa Jaminan Keamanan?
Poin utama yang menjadi sasaran kritik adalah ketentuan dalam MoU yang memberikan keringanan sanksi, akses pasar minyak, dan prospek dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar bagi Iran. Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat yang berpengaruh, menilai langkah ini "sama sekali tidak sesuai" dengan janji kampanye Trump.
"Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran -- meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS -- akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," ujar Wicker dalam sebuah pernyataan resmi.
Kekhawatiran serupa diungkapkan John Cornyn, Senator dari Texas. Ia menilai MoU tersebut hanya "sekadar jeda" yang memungkinkan Iran membangun kembali persenjataannya dan melanjutkan pengayaan uranium tanpa hambatan berarti.
Oposisi Demokrat: "The Art of the Disaster"
Partai Demokrat kompak menolak kesepakatan itu. Mereka berargumen Trump melancarkan perang yang mahal hanya untuk menerima kesepakatan yang sebagian besar mengembalikan status quo sebelum perang, sembari memberikan pengaruh baru kepada Teheran.
"Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," ledek Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam pidatonya di sidang pleno.
Pembelaan Trump: Jalan Praktis untuk Stabilitas Energi
Menghadapi gelombang kritik, Trump membela kesepakatannya. Ia menyebut MoU itu sebagai cara praktis untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima minyak mentah global. Trump menekankan kesepakatan itu belum final dan memperingatkan Amerika Serikat dapat melanjutkan serangan jika negosiasi gagal.
MoU yang diteken di sela-sela pertemuan di Prancis itu bertujuan mengakhiri perang, membuka kembali Selat Hormuz, dan menstabilkan pasar energi global yang sempat tertekan akibat konflik. Namun, tanpa jaminan tegas soal pengayaan uranium, rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi bersenjata, kesepakatan ini dinilai banyak pihak sebagai langkah yang prematur dan berisiko tinggi.