NATUNA — Melalui program PM AAS, Kementan mengubah pendekatan budidaya padi di Natuna. Jika selama ini satu hektare lahan hanya membutuhkan 25 kilogram benih untuk menghasilkan sekitar 350.000 rumpun, ke depan kebutuhan benih dinaikkan menjadi 70 kilogram per hektare. Targetnya, populasi tanaman per hektare mencapai minimal 900.000 hingga 1,2 juta rumpun.
Kebutuhan Pupuk Ikut Meningkat
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau Rudi Hartono menjelaskan, kepadatan tanaman yang lebih tinggi membutuhkan asupan nutrisi ekstra. “Penerapan program ini memerlukan tambahan pupuk organik dan anorganik,” kata Rudi di Natuna, Rabu.
Kebutuhan pupuk tambahan itu, lanjutnya, bisa diusulkan oleh kelompok tani melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi memberikan dukungan berupa benih, pupuk bersubsidi, serta alat dan mesin pertanian (alsintan). Pada 2026, bantuan tersebut telah disalurkan dan dapat diusulkan kembali sesuai ketentuan.
Sosialisasi ke Penyuluh Jadi Langkah Awal
Saat ini, penerapan PM AAS di Natuna masih pada tahap sosialisasi. Kegiatan dimulai pada Rabu (22/7) di Kecamatan Bunguran Timur, menyasar para penyuluh pertanian terlebih dahulu.
“Sosialisasi dilakukan untuk menyamakan pemahaman para penyuluh sehingga informasi yang disampaikan kepada petani dapat diterima secara utuh dan diterapkan dengan benar,” ujar Rudi. Setelah penyuluh paham, metode ini akan didorong ke petani di lapangan mulai tahun ini.
Target Swasembada dan Produktivitas Berlipat
Program PM AAS merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian mempercepat swasembada pangan. Dengan populasi tanaman yang hampir tiga kali lipat dari metode konvensional, produktivitas per hektare diharapkan naik signifikan tanpa perlu membuka lahan baru. “Target program ini adalah meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya,” tegas Rudi.