BATAM — PLN Batam mencatat 80 persen jaringan tegangan menengah di kota tersebut sudah memakai Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) atau kabel bawah tanah. Sisanya masih menggunakan sistem konvensional berupa tiang dan kabel udara (SUTM).
Lebih Tahan Cuaca Ekstrem
Rahmat Furqon menjelaskan bahwa keunggulan utama SKTM terletak pada ketahanannya terhadap gangguan cuaca. Kabel yang ditanam di bawah tanah tidak mudah terpengaruh pohon tumbang, benang layangan, atau faktor lain yang kerap memadamkan jaringan udara.
“Batam dan Kepri sangat rentan terhadap cuaca ekstrem. Dengan kabel berada di bawah tanah, jaringan lebih terlindungi dan tidak mudah terganggu,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Usia Pakai Hingga 40 Tahun
Dari segi perawatan, SKTM dinilai lebih efisien dalam jangka panjang. Kabel bawah tanah tidak terpapar langsung sinar matahari dan hujan sehingga usia pakainya lebih panjang.
“Untuk kabel SKTM dapat bertahan hingga 30 sampai 40 tahun,” kata Furqon. Hal ini berarti biaya pemeliharaan dapat ditekan dibandingkan jaringan udara yang perlu perbaikan berkala akibat paparan cuaca.
Estetika Kota Lebih Rapi
Penggunaan kabel bawah tanah juga memperbaiki tata kota. Kawasan perkotaan di Batam kini tidak lagi dipenuhi kabel yang menggantung di udara. PLN Batam menyebut sistem ini sejalan dengan visi kota modern.
Cakupan SKTM dan SKTR
Jaringan distribusi listrik di Batam terdiri dari SKTM untuk tegangan menengah dan Saluran Kabel Tegangan Rendah (SKTR) untuk pelanggan rumah tangga. Saat ini, penggunaan SKTM sudah mencapai 80 persen, sementara SKTR baru sekitar 20 persen.
“Biasanya SKTR diterapkan di perumahan-perumahan baru. Jika developer setuju menggunakan SKTR, maka kami akan memasang jaringan SKTR di kawasan tersebut,” jelas Furqon. Sistem kabel bawah tanah diperkirakan akan terus diperluas seiring pembangunan perumahan dan kawasan komersial di Batam.