BATAM — Di tengah derasnya kritik atas mangkraknya proyek strategis, PT BIB justru merealisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) di luar area operasional Bandara Hang Nadim. Dua unit toilet dan kamar mandi untuk pengunjung ekowisata itu diresmikan langsung oleh Direktur PT BIB, Annang Setia Budhi.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penanaman 300 bibit mangrove di pesisir Nongsa. Secara terpisah, langkah ini layak diapresiasi sebagai bentuk kepedulian lingkungan. Namun, jika ditelisik lebih jauh, aksi sosial ini berbanding terbalik dengan progres pembangunan infrastruktur utama bandara yang hingga kini masih mandek.
Terminal Kargo Rp 116 Miliar Tak Kunjung Beroperasi
Terminal Kargo Baru Hang Nadim yang dibangun BP Batam pada 2022 silam masih terkunci rapat. Tidak ada aktivitas bongkar muat di gedung seluas sekitar 9.600 meter persegi tersebut, padahal nilai asetnya mencapai Rp 116 miliar.
Rinciannya, gedung dan bangunan senilai Rp 108 miliar, peralatan dan mesin Rp 5,9 miliar, serta jaringan sekitar Rp 1,7 miliar. Terminal ini dirancang mampu menampung lima pesawat berbadan lebar sekelas Boeing 777 dengan luas apron 500 x 168 meter.
BPK dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan BP Batam Tahun 2024 menyoroti hal ini. Berdasarkan observasi pada 14 Maret 2025, BPK menilai terminal tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berpotensi memunculkan biaya pemeliharaan dan hilangnya potensi penerimaan daerah.
Mengapa Terminal Kargo Baru Belum Diserahterimakan?
Persoalan klasik kembali muncul: BP Batam belum juga menyerahterimakan aset tersebut kepada PT BIB. Padahal, terminal kargo baru ini seharusnya menggantikan fungsi terminal kargo lama yang selama ini menjadi penghambat pembangunan Terminal 2.
Pihak BP Batam disebut-sebut masih belum melengkapi utilitas dan fasilitas pendukung senilai sekitar Rp 31 miliar. Hingga berita ini diturunkan, BatamNow.com telah mencoba mengonfirmasi hal ini ke BP Batam dan Direktur PT BIB, namun belum ada respons.
Terminal 2 Hang Nadim: Baru Sebatas Prasasti
Mimpi membangun Terminal 2 Hang Nadim dengan nilai investasi Rp 2,4 triliun hingga Rp 2,7 triliun pun masih sebatas wacana. Groundbreaking yang dilakukan pada 30 Mei 2024 oleh Kepala BP Batam saat itu, Muhammad Rudi, hanya menyisakan patok dan prasasti di lokasi proyek.
Janji operasional pada 2026 semakin jauh dari kenyataan. Salah satu kendala yang sempat mencuat adalah terminal kargo lama yang masih beroperasi, sementara terminal kargo baru belum bisa difungsikan karena alasan kelengkapan utilitas tersebut.
Ironi CSR di Tengah Proyek Strategis yang Tersendat
Pembangunan fasilitas sanitasi di "Pandang Tak Jemu" memang murni bernilai positif bagi warga dan pengunjung. Namun, publik mulai mempertanyakan prioritas pengelola bandara.
Di satu sisi, perusahaan hadir membangun toilet umum. Di sisi lain, aset negara senilai Rp 116 miliar dibiarkan tak terpakai dan proyek ekspansi bandara yang telah diresmikan tak kunjung menunjukkan progres pembangunan fisik.
Pertanyaan besarnya, ke mana arah pengelolaan Bandara Hang Nadim ke depan? Publik menanti langkah konkret aparat penegak hukum untuk mengusut potensi penelantaran aset negara yang nilainya tidak sedikit itu.