Pencarian

Prevalensi Stunting Batam Turun ke 1,07 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dari Remaja hingga Balita

Kamis, 27 Agustus 2026 • 01:38:31 WIB
Prevalensi Stunting Batam Turun ke 1,07 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dari Remaja hingga Balita
Petugas kesehatan mengukur tinggi badan balita dalam kegiatan pemantauan pertumbuhan di Batam, Selasa (10/6).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat prevalensi stunting turun ke angka 1,07 persen pada semester I 2026, atau lebih rendah dari periode sebelumnya. Angka ini diperoleh dari hasil pengukuran terhadap 63.037 balita di seluruh wilayah Batam, dengan 677 balita masuk kategori stunting.

BATAM — Angka prevalensi stunting di Batam menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Berdasarkan data terbaru Dinkes Batam, prevalensi stunting tercatat 1,07 persen pada semester I 2026, turun dari 1 persen pada Desember 2025 yang diukur dari 69.919 balita.

Dari total 63.037 balita yang diukur pada periode tersebut, sebanyak 677 balita terindikasi stunting. Capaian ini menjadi modal bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Batam untuk terus menekan angka tersebut melalui penguatan intervensi yang menyasar kelompok remaja, ibu hamil, hingga balita.

Penurunan Konsisten Sejak 2022

Data Dinkes Batam menunjukkan tren penurunan prevalensi stunting yang signifikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2022, prevalensi stunting di Batam masih berada di angka 15,2 persen, kemudian turun drastis menjadi 2,3 persen pada 2023, dan kembali turun ke 1,28 persen pada 2024.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Batam, Anggraini Nawang Wulan, menyebut capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan. “Prevalensi di angka 1,07 persen adalah berkat kerja semua pihak. Penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi semua pihak yang tergabung dalam TPPS Batam,” kata Anggraini saat dihubungi di Batam, Rabu.

Dua Jenis Intervensi: Spesifik dan Sensitif

Pemkot Batam mengandalkan dua pendekatan utama untuk menekan angka stunting, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik berkontribusi sekitar 30 persen dalam penanganan stunting dan diberikan secara langsung untuk mencegah serta menangani masalah gizi.

Upaya ini dimulai sejak masa remaja melalui pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri, konsumsi 90 tablet tambah darah selama kehamilan, serta pemberian tambahan asupan gizi bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis.

Setelah kelahiran, intervensi spesifik dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif bagi bayi di bawah enam bulan, makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk anak usia 6-23 bulan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk. Imunisasi dasar lengkap juga menjadi bagian dari intervensi ini.

Faktor Sanitasi dan KB Jadi Kunci Intervensi Sensitif

Sementara itu, intervensi sensitif memiliki kontribusi lebih besar, yakni sekitar 70 persen, dan mencakup faktor di luar layanan kesehatan langsung. Anggraini menjelaskan, intervensi ini memastikan keluarga memiliki akses air minum layak, sanitasi yang memadai, pendampingan keluarga berisiko stunting, pelayanan KB pascapersalinan, hingga pemeriksaan kesehatan pasangan usia subur.

“Intervensi sensitif ini seperti memastikan keluarga memiliki akses air minum, sanitasi layak, pendampingan keluarga berisiko stunting, pelayanan KB pascapersalinan, pemeriksaan kesehatan pasangan usia subur dan lainnya,” jelasnya.

Anggraini menegaskan, penguatan kedua jenis intervensi tersebut dilakukan secara berkelanjutan agar penurunan prevalensi stunting di Batam dapat dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

Follow batamvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kepri.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks