KEPULAUAN RIAU — Kasus kecemasan dan depresi pada anak dan remaja terus meningkat, dan orang tua kerap disalahkan soal smartphone. Padahal psikolog Peter Gray menyoroti dua faktor lain yang jarang dibahas: kemandirian anak yang menyusut dan sistem pendidikan yang makin mengekang. Simak penjelasannya agar ibu bisa menilai pola asuh sendiri.
Peter Gray, profesor riset psikologi dan ilmu saraf di Boston College, menilai penggunaan smartphone dan media sosial bukan penyebab utama melonjaknya kecemasan anak muda. Ia justru menyoroti dua hal yang lebih mendasar dan sering luput dari perhatian orang tua.
Pandangan Gray tertuang dalam bukunya Restoring Childhood: How to Set Kids Free in the Age of Anxiety. Ia menegaskan belum ada bukti kuat yang menghubungkan layar gadget dengan kesehatan mental anak.
Mengapa Smartphone Bukan Tersangka Utama
Gray tidak sependapat dengan psikolog sosial Jonathan Haidt yang membahas isu ini dalam buku The Anxious Generation. Menurut Gray, Haidt hanya merujuk segelintir penelitian yang mendukung hipotesisnya, bukan studi tinjauan atau meta-analisis.
"Sebenarnya tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan smartphone dan kesehatan mental pada anak muda. Bahkan, tidak ada korelasi yang berarti," ungkap Gray, dikutip dari Yahoo Life.
Kritik ini penting bagi ibu yang sering merasa bersalah soal waktu layar anak. Alih-alih hanya membatasi gadget, Gray mengajak orang tua melihat sisi lain dari kehidupan anak sehari-hari.
1. Kemandirian Anak yang Makin Menyusut
Faktor pertama adalah hilangnya ruang anak untuk belajar mandiri. Setiap anak punya dorongan alami melakukan banyak hal sendiri sesuai usianya, tetapi pola asuh modern menuntut orang tua mengawasi hampir setiap langkah.
Gray menelusuri perubahan ini sejak sekitar tahun 1950-an. Orang tua kian merasa wajib memastikan anak selalu dalam pengawasan orang dewasa, dan khawatir dituduh lalai bila memberi kebebasan.
Padahal bermain bebas, menjelajah lingkungan, dan mengambil keputusan kecil sendiri adalah bagian penting dari tumbuh kembang. Anak butuh ruang menghadapi situasi sesuai tahapan usianya tanpa terus dikendalikan orang dewasa.
2. Sistem Pendidikan yang Terlalu Berorientasi Nilai
Faktor kedua adalah sistem pendidikan yang makin membatasi kebebasan dan kreativitas. Gray menyoroti penerapan Common Core State Standards di Amerika Serikat sekitar 2011 yang menggeser fokus belajar ke nilai ujian dan target akademis.
Akibatnya, ruang guru untuk menyesuaikan metode dengan kebutuhan dan minat murid menyempit. Sekolah memang lama menjadi sumber stres bagi anak usia sekolah, tetapi tekanannya makin berat saat belajar hanya diukur dari hasil ujian.
Gray mendorong guru diberi kembali keleluasaan mengajar, termasuk waktu istirahat yang cukup. Pembelajaran yang kehilangan unsur kreativitas membuat anak kehilangan keterlibatan yang menyenangkan.
Apa yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah
Tak perlu menunggu sistem berubah. Mulai dari hal kecil: beri anak kesempatan menyelesaikan tugas sederhana sendiri, biarkan ia bosan dan mencari kegiatan, serta tahan dorongan mengawasi setiap gerak saat bermain di lingkungan aman.
Sesuaikan porsi kemandirian dengan usia. Anak balita bisa dilatih memilih baju atau merapikan mainan, sementara anak sekolah bisa diberi tanggung jawab kecil di rumah dan waktu bermain tanpa jadwal ketat.
Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Anak
Perubahan pola asuh bukan pengganti bantuan profesional. Bila anak menunjukkan kecemasan berkepanjangan, menarik diri, sulit tidur, atau prestasi turun drastis, segera konsultasikan ke psikolog anak.
Diskusikan juga dengan guru di sekolah untuk melihat apakah tekanan akademis ikut memengaruhi kondisi anak. Penanganan dini jauh lebih efektif daripada menunggu gejala memburuk.
Kesehatan mental anak terbentuk dari banyak hal, bukan hanya layar gadget. Memberi anak ruang mandiri dan menjaga komunikasi hangat dengan sekolah adalah dua langkah nyata yang bisa ibu mulai hari ini.