NATUNA — Peserta datang dengan perlengkapan pancing dan umpan masing-masing sejak pagi. Panitia membuka rangkaian acara lewat senam bersama sekitar pukul 07.00 WIB, dilanjutkan pembagian doorprize sebelum lomba resmi dilepas Dewan Pembina KPDN, Muhammad Erimuddin.
Peserta yang mendaftar terdiri dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Latar belakang dan usia mereka beragam, namun tujuan kedatangan sama: menikmati kebersamaan di tepi pantai sambil menjalankan kebiasaan yang diwariskan para pendahulu.
Bukan Sekadar Cari Ikan, tapi Jaga Silaturahmi Kampung
Bagi Erimuddin, Ngael Cancang punya nilai lebih dari aktivitas memancing yang dikemas menjadi perlombaan. Tradisi ini masih hidup di sejumlah kampung di Natuna dan dinilai layak dipertahankan.
"Pertama, kegiatan ini untuk menjalin silaturahmi sesama masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melestarikan budaya lokal. Tradisi Ngael Cancang ini masih lestari di kampung-kampung kita dan tidak semua daerah memiliki tradisi seperti ini," ujarnya.
Keterlibatan perempuan dan anak-anak menjadi perhatian tersendiri bagi panitia. Menurut Erimuddin, kehadiran mereka menunjukkan Ngael Cancang bisa dinikmati bersama keluarga, bukan hanya hobi kalangan tertentu.
"Pesertanya bukan hanya bapak-bapak atau laki-laki. Ada juga ibu-ibu, bahkan tadi saya melihat beberapa anak perempuan ikut berpartisipasi. Ini menunjukkan kegiatan seperti ini masih menjadi hobi masyarakat," katanya.
Juara Ditentukan Jumlah Tangkapan, Bukan Berat Ikan
Setiap peserta bebas memilih jenis umpan, dengan syarat membawa sendiri dari rumah. Panitia hanya menetapkan ketentuan soal jenis ikan yang masuk perhitungan lomba.
Penilaian tidak memakai timbangan. Jumlah tangkapan menjadi ukuran utama, sementara ikan selayang dan ikan buntal tidak dihitung.
"Dalam menentukan juara, ikan tidak ditimbang. Penilaiannya berdasarkan jumlah ikan yang didapat. Jadi, meskipun ikannya besar tetapi jumlahnya sedikit, belum tentu menjadi juara. Sebaliknya, peserta yang mendapatkan ikan lebih banyak sesuai ketentuan bisa berpeluang menang," jelas Erimuddin.
Aturan itu membuat lomba menuntut ketekunan, bukan cuma keberuntungan mendapat ikan besar. Peserta ditantang memperoleh tangkapan sebanyak mungkin sesuai ketentuan panitia.
Warisan Pesisir yang Butuh Ruang di Tengah Perubahan Zaman
Hasil tangkapan bukan satu-satunya yang dibawa pulang peserta. Pertemuan, tawa, dan pengalaman menikmati tradisi bersama menjadi bagian penting dari kegiatan di Pantai Piwang.
KPDN dan PORDI Natuna berharap lomba Ngael Cancang tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam perayaan hari jadi daerah. Tradisi memancing sambil berjalan itu diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari identitas masyarakat pesisir Natuna.
Bagi warga yang terlibat, pesannya sederhana: merawat budaya bisa dimulai dengan berkumpul, bergembira, dan melakukan kembali kebiasaan yang diwariskan para pendahulu. Selama tradisi masih dijalankan dan generasi muda mau mengenalnya, warisan budaya Natuna akan tetap punya tempat dalam kehidupan masyarakatnya.