KEPULAUAN RIAU — Pertamina Patra Niaga memperluas pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga dan usaha kuliner untuk diolah menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan Green Gasoline. Langkah ini menyasar rantai pasok energi alternatif yang lebih terstruktur sekaligus memberi nilai ekonomi pada limbah minyak goreng bekas.
Menurut VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora, minyak jelantah yang terkumpul tidak hanya berpotensi menjadi bahan baku SAF, tetapi juga Green Gasoline. "Potensi pemanfaatannya pun tidak terbatas pada pengembangan Sustainable Aviation Fuel, tetapi juga Green Gasoline," kata Kitty dalam keterangan pers, Sabtu (31/10/2026).
Mengapa Minyak Jelantah Dilirik
Pertamina Patra Niaga menilai UCO punya nilai tambah yang selama ini belum tergarap optimal. "Pertamina Patra Niaga melihat minyak jelantah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku energi masa depan," ujar Kitty.
Melalui inisiatif pengumpulan, perusahaan ingin membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat dan berbagai mitra. Tujuannya agar minyak jelantah dikelola lebih baik dan tidak berakhir sebagai limbah tanpa manfaat.
Pengumpulan dilakukan lewat berbagai kanal, termasuk koperasi. Skema ini dirancang untuk membangun rantai pasok bahan baku alternatif yang lebih terstruktur, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah minyak goreng bekas bagi pelaku usaha kecil dan rumah tangga.
Kesiapan Ekosistem Hulu-Hilir
Pengembangan energi berbasis minyak jelantah tidak cukup berhenti di pengumpulan. Pertamina Patra Niaga menekankan perlunya kesiapan ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari ketersediaan bahan baku, sistem pengumpulan, hingga infrastruktur dan teknologi pengolahan di kilang.
"Pengembangan energi masa depan membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, sistem pengumpulan, hingga kemampuan industri dalam melakukan pengolahan," kata Kitty.
Karena itu, Pertamina mendorong kolaborasi lintas sektor agar potensi minyak jelantah dapat dimanfaatkan secara optimal. Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat maupun industri energi nasional.
Posisi SAF dan Green Gasoline
SAF dan Green Gasoline masuk kategori bahan bakar alternatif yang dikembangkan untuk menekan emisi sektor penerbangan dan transportasi. Keduanya berbasis bahan baku non-fosil, sehingga pemanfaatan minyak jelantah sejalan dengan agenda transisi energi.
Bagi Pertamina Patra Niaga, pengumpulan UCO memperluas portofolio bahan baku energi alternatif di luar jalur konvensional. Langkah ini juga memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok energi bersih yang melibatkan masyarakat sebagai pemasok bahan baku.
Ke depan, keberhasilan program bergantung pada konsistensi pasokan dari rumah tangga dan usaha kuliner, serta kesiapan kilang mengolah UCO menjadi produk jadi. Tanpa keduanya, potensi minyak jelantah sebagai bahan baku SAF dan Green Gasoline sulit beranjak dari skala pengumpulan.