KEPULAUAN RIAU — Motor listrik yang beredar di pasar Indonesia sebagian besar mengandalkan baterai berbasis lithium. Di antara variannya, baterai NMC atau Nickel Manganese Cobalt menjadi pilihan sejumlah pabrikan karena keunggulan teknisnya.
Kepadatan energi (energy density) baterai NMC disebut lebih tinggi dibandingkan baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate). Dampaknya, kemasan sel baterai bisa lebih ramping dan ringan, tetapi tetap menghasilkan kapasitas besar.
Bagi konsumen, artinya motor listrik tidak perlu membawa baterai berat untuk mendapat tenaga dan jarak tempuh yang optimal. Namun, baterai tipe ini juga punya kelemahan, yaitu lebih sensitif terhadap suhu tinggi dan berisiko terbakar jika tidak dikelola dengan sistem manajemen temperatur yang baik.Gesits Raya E: Baterai 72V 20Ah dengan Torsi 70 Nm
Model andalan Garansindo ini menjadi salah satu motor listrik termurah dengan baterai NMC. Gesits Raya E dibanderol mulai Rp 20,98 juta hingga Rp 24,99 juta on the road Jakarta.
- Baterai: NMC 72V 20Ah
- Jarak tempuh: 60 km dalam sekali cas
- Tenaga: 4 dk dengan torsi 70 Nm
- Kecepatan maksimal: 70 km/jam
Gesits G1: Tenaga Lebih Besar, Jarak Tempuh Lebih Pendek
Masih dari pabrikan yang sama, Gesits G1 diposisikan lebih tinggi dengan harga Rp 28,7 juta sampai Rp 29,75 juta untuk on the road Jakarta.
Motor ini memakai baterai NMC 72V 20Ah yang menyuplai motor listrik bertenaga 6,7 dk. Meski tenaganya lebih besar, jarak tempuhnya justru lebih pendek, yakni sekitar 50 km. Torsi maksimalnya tercatat 30 Nm dengan kecepatan puncak 70 km/jam.
TVS iQube S: Dua Paket Baterai untuk Jarak 115 Km
Pabrikan asal India, TVS, turut mengandalkan baterai NMC pada model iQube S yang dijual Rp 29,9 juta. Motor ini menggunakan dua unit baterai lithium-ion NMC dengan total kapasitas 3,4 kWh.
Dengan kombinasi tersebut, TVS iQube S diklaim mampu menempuh jarak hingga 115 kilometer dalam satu kali pengisian penuh. Angka ini menjadi yang terjauh di antara ketiga model dalam daftar ini.
Mengapa NMC Lebih Cepat Panas?
Sifat kimiawi baterai NMC memang lebih reaktif dibanding LFP. Konsekuensinya, panas yang dihasilkan saat pengisian cepat atau pemakaian berat lebih tinggi. Beberapa pabrikan otomotif roda empat seperti Tesla memilih menambahkan teknologi temperature management untuk meredam risiko tersebut.
Di segmen motor listrik Tanah Air, faktor ini penting diperhatikan karena berkaitan dengan keamanan pengisian daya di rumah dan ketahanan baterai dalam cuaca panas.