Pencarian

China Sukses Mendaratkan Kembali Roket Long March, Ancaman Baru untuk Dominasi SpaceX

Minggu, 12 Juli 2026 • 22:50:31 WIB
China Sukses Mendaratkan Kembali Roket Long March, Ancaman Baru untuk Dominasi SpaceX
Roket Long March milik China berhasil mendarat kembali di kapal pemulihan di laut Kepulauan Riau.

KEPULAUAN RIAU — China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) sukses meluncurkan roket orbital Long March dan mendaratkan booster-nya di atas kapal pemulihan di laut. Prestasi ini langsung menempatkan China sejajar dengan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang mampu mengoperasikan roket orbital yang bisa dipakai ulang.

Teknik Pendaratan yang Berbeda

Jika SpaceX menggunakan empat kaki pendarat yang dikembangkan untuk mendarat di platform terapung otomatis, China punya pendekatan yang berbeda. Booster roket Long March ditangkap oleh jaring yang direntangkan di atas kerangka besar di atas kapal penyelamat.

Terlepas dari perbedaan metode, tantangan teknisnya tetap sama. Kemampuan mengendalikan roket kembali ke kapal membutuhkan perangkat lunak navigasi dan sensor yang canggih, serta mesin yang cukup andal untuk dinyalakan kembali dan cukup kokoh untuk bertahan saat turun melewati atmosfer.

Dampak Langsung ke Biaya Peluncuran

Menurut Victoria Samson, Chief Director for Space Security and Stability di Secure World Foundation, keberhasilan ini adalah "pengubah permainan yang besar." Ia menambahkan, "Ketika China berhasil memakai ulang roket-roket ini, biaya peluncuran mereka akan turun drastis. Mereka bisa memanfaatkannya sebagai alat soft power untuk meluncurkan muatan bagi sekutu-sekutu potensial dengan harga yang sangat murah."

CASC sendiri sudah berencana untuk menerbangkan kembali booster yang sama sebelum akhir tahun ini. Booster ini memiliki kapasitas angkut yang hampir setara dengan Falcon 9 milik SpaceX.

Pasar Global dan Ancaman ke Starlink

Meskipun aturan keamanan nasional membagi pasar peluncuran global menjadi dua kubu—AS dan Eropa di satu sisi, Rusia dan China di sisi lain—roket yang bisa dipakai ulang akan mengubah peta persaingan. China bisa memanfaatkan teknologi ini untuk membangun jaringan komunikasi satelit dan pusat data orbital yang bersaing langsung dengan layanan Starlink milik SpaceX.

Persaingan paling terasa di pasar negara berkembang seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Bagi militer AS, hilangnya keunggulan di antariksa menjadi risiko nyata. Apalagi, laporan dari konsultan jurnalis investigatif baru-baru ini mengungkapkan dokumen yang menunjukkan China dan Rusia bekerja sama mencari cara untuk merusak Starlink karena keberhasilannya di Ukraina.

Jawaban SpaceX: Starship

Satu-satunya cara SpaceX untuk mempertahankan dominasi adalah dengan meluncurkan Starship, roket yang jauh lebih besar. Uji coba terakhir Starship berakhir dengan hasil yang beragam. Namun, uji statis api pada booster raksasa baru-baru ini berjalan tanpa kendala, menandakan percobaan berikutnya akan segera dilakukan dalam waktu dekat.

Persaingan di sektor roket bekas pakai juga kian memanas. Blue Origin milik Jeff Bezos berhasil memulihkan dan menerbangkan kembali satu booster pada 2025, meskipun roketnya meledak di landasan pada Mei lalu. Rocket Lab mengerjakan Neutron dengan booster yang bisa dipakai ulang, sementara Stoke Space mengembangkan roket yang sepenuhnya dapat digunakan kembali dan ditargetkan uji coba tahun ini.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks