Pencarian

Regulator Keamanan Australia Desak Apple, Meta, dan Google Perangi Pemerasan Seksual di Pesan Teks

Selasa, 14 Juli 2026 • 18:43:01 WIB
Regulator Keamanan Australia Desak Apple, Meta, dan Google Perangi Pemerasan Seksual di Pesan Teks
Regulator keamanan Australia mendesak Apple, Meta, dan Google untuk meningkatkan deteksi pemerasan seksual di platform pesan teks.

KEPULAUAN RIAU — Modus sextortion atau pemerasan seksual kian marak dan menyasar anak di bawah umur. Pelaku biasanya menyamar sebagai teman sebaya korban, memulai percakapan mesra, lalu mengirimkan foto eksplisit palsu. Korban yang terpancing membalas kiriman serupa langsung diancam: foto mereka akan disebar ke keluarga dan teman-teman di media sosial jika tidak membayar sejumlah uang.

Skrip Berulang yang Tak Terdeteksi

eSafety menemukan bahwa para pelaku sextortion menggunakan skrip atau naskah percakapan yang sama secara berulang. Ribuan pendekatan pemerasan mengandung pola kalimat koersif yang identik. Namun, platform seperti WhatsApp, iMessage, Discord, dan Google Messages belum secara aktif mendeteksi pola-pola ini melalui analisis bahasa.

Beberapa layanan bahkan tidak memiliki kategori pelaporan khusus untuk pemerasan seksual atau pelecehan anak. Akibatnya, korban kesulitan melaporkan kejadian yang mereka alami secara langsung dari aplikasi.

Apple Diminta Tiru Sistem Deteksi Foto Telanjang

Regulator menyoroti Apple secara khusus. Mereka menilai perusahaan asal Cupertino itu seharusnya bisa menerapkan teknologi serupa dengan fitur deteksi foto telanjang yang sudah ada di iMessage. Fitur tersebut bekerja secara on-device di perangkat penerima tanpa mengorbankan privasi berkat enkripsi end-to-end.

Pendekatan yang sama, menurut eSafety, bisa digunakan untuk mendeteksi skrip pemerasan yang dikirim melalui iMessage. Selain itu, regulator mendesak Apple untuk menyederhanakan proses pelaporan agar korban bisa melapor dengan lebih mudah.

Kerentanan di WhatsApp, Discord, dan Google Messages

Laporan eSafety mencatat celah keamanan masih terjadi di berbagai platform pesan instan. WhatsApp dan Google Messages, misalnya, belum memiliki jalur pelaporan yang jelas untuk kasus pemerasan seksual. Sementara itu, Discord dan iMessage dinilai belum menyediakan kategori pelaporan khusus untuk kejahatan ini.

eSafety menekankan bahwa masalah ini sudah dalam skala besar. Data menunjukkan lebih dari 10% remaja berusia 16 hingga 18 tahun pernah menjadi korban, dan lebih dari separuhnya mengaku pemerasan terjadi saat mereka masih di bawah 16 tahun. Beberapa kasus bahkan berujung pada bunuh diri remaja.

Bocoran Fitur Baru di iOS 26.6 Beta

Menariknya, Apple mungkin sudah bergerak. Seorang pengembang menemukan fitur deteksi pesan berbahaya (malicious message detection) dalam kode iOS 26.6 beta kelima. Meski belum diumumkan secara resmi, fitur ini bisa menjadi langkah awal Apple untuk memenuhi tuntutan regulator.

Laporan dari 9to5Mac mendukung langkah ini. Mereka menilai deteksi skrip pemerasan secara on-device adalah solusi realistis yang tidak mengorbankan privasi pengguna, sama seperti fitur keamanan anak yang sudah ada.

Regulator Australia menegaskan bahwa pertempuran melawan sextortion membutuhkan komitmen nyata dari seluruh pemain industri. Tanpa deteksi bahasa yang lebih canggih dan sistem pelaporan yang ramah korban, celah ini akan terus dimanfaatkan pelaku untuk menjerat korban baru.

Bagikan
Sumber: 9to5mac.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks