BATAM — Bukan sekadar seremoni, forum silaturahmi antara Wali Kota Batam Amsakar Achmad bersama warga Kecamatan Nongsa berubah menjadi ajang evaluasi program kerja. Warga yang hadir tidak hanya bertepuk tangan, tetapi menyebut sejumlah kebijakan telah menyentuh kebutuhan dasar mereka.
Empat Program yang Paling Dirasakan Warga
Ketua RT 01/RW 02 Batu Besar, Andoni, menjadi salah satu perwakilan yang menyuarakan aspirasi warganya. Ia merinci empat program yang dinilai paling membebani masyarakat jika tidak ada intervensi pemerintah:
- Seragam sekolah gratis bagi peserta didik baru — membantu orang tua di tengah tekanan ekonomi tahun ajaran baru.
- Sembako murah yang rutin digelar untuk meringankan beban harian warga.
- Perlindungan sosial bagi lansia — jumlah penerima bantuan dinaikkan menjadi 4.000 orang dengan insentif Rp400 ribu per bulan.
- Beasiswa pendidikan tinggi — 34 mahasiswa dari wilayah hinterland dan keluarga kurang mampu kini berkuliah di Politeknik Negeri Batam dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Mengapa Beasiswa Hinterland Jadi Sorotan?
Andoni secara spesifik menyoroti program beasiswa kuliah gratis. Menurutnya, akses pendidikan tinggi selama ini menjadi tembok besar bagi anak-anak di pulau-pulau sekitar Batam.
“Anak-anak di hinterland kini memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan bekal pendidikan yang baik, mereka diharapkan mampu mengubah masa depan keluarga sekaligus berkontribusi membangun Batam,” ujar Andoni dalam forum tersebut.
Bantahan atas Narasi Negatif di Media Sosial
Di tengah apresiasi, Wali Kota Amsakar Achmad menyempatkan diri meluruskan informasi yang kerap beredar di media sosial. Ia menilai banyak capaian pembangunan yang luput dari perhatian publik karena tenggelam oleh isu-isu kecil yang digoreng menjadi viral.
“Di era digital, arus informasi bergerak sangat cepat. Terkadang persoalan kecil menjadi viral hingga dianggap sebagai kebenaran. Padahal, banyak capaian pembangunan yang berdampak langsung kepada masyarakat, seperti penurunan angka kemiskinan, pengurangan pengangguran, hingga peningkatan investasi, justru luput dari perhatian,” kata Amsakar.
Forum silaturahmi ini, menurut Amsakar, menjadi ruang untuk menyamakan persepsi. Ia mengapresiasi peran ketua RT dan RW di Nongsa yang dinilai mampu menjaga kondusivitas sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga.
Pergeseran Prioritas: Dari Fisik ke Manusia
Amsakar menegaskan bahwa arah pembangunan Batam tidak lagi hanya berorientasi pada infrastruktur fisik. Keseimbangan baru mulai diterapkan, yakni pengembangan sumber daya manusia (SDM) mendapat porsi yang setara.
“Jika ada kebijakan yang perlu dikoreksi, sampaikan melalui jalur yang baik dengan kritik dan saran yang membangun. Saya bersama Ibu Li Claudia memohon doa dari seluruh masyarakat agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan amanah ini,” pungkas Amsakar mengakhiri pertemuan.