NATUNA — Produksi padi di Kabupaten Natuna menunjukkan lonjakan signifikan pada 2025. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna mencatat, petani menghasilkan 219,69 ton gabah kering panen (GKP) dari lahan sawah produktif seluas 45,45 hektare. Angka itu melonjak 93 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 113,68 ton. Hingga Juli 2026, hasil GKP sudah mencapai 106,80 ton.
Indeks Tanam Ditingkatkan, Lahan Sempit Tak Jadi Penghalang
Daratan Natuna hanya sekitar 2 persen dari total wilayah — 98 persennya berupa lautan. Lahan baku sawah yang tersedia 414,01 hektare, namun yang produktif hanya 45,45 hektare. Dengan jumlah petani yang terbatas, Pemkab Natuna mendorong petani menanam padi dua hingga tiga kali dalam setahun pada lahan yang sama. Siklus tanam padi yang hanya sekitar tiga bulan memungkinkan frekuensi panen lebih tinggi tanpa perlu membuka lahan baru.
"Pada 2025, produksi minimal 2,5 ton hingga 3,5 ton per hektare berhasil diraih, dengan frekuensi tanam dua hingga tiga kali di beberapa lokasi," ujar Kepala DKPP Natuna Wan Syazali.
Bantuan Alsintan dan Pupuk Jadi Stimulus Utama
Untuk menekan biaya produksi dan mencegah gagal panen, Pemkab menyediakan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa Sistem Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan Sistem Irigasi Perpompaan (Irpom). Lima unit Irpom sedang dalam proses pengerjaan, tiga di antaranya dibangun di Pulau Serasan — salah satu pulau terdepan Indonesia. Infrastruktur ini memastikan pasokan air tetap terjaga saat musim kemarau.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian (saprodi) berupa benih padi, pupuk gratis, dan pupuk bersubsidi. Pada semester I 2026, sebanyak 733 petani dalam kelompok tani aktif menerima 188,53 ton pupuk subsidi, terdiri dari NPK, urea, dan organik. Sumber dana berasal dari APBN dan APBD.
Tantangan Distribusi Pupuk di Wilayah Kepulauan
Di Natuna, distribusi pupuk bersubsidi tidak bisa menggunakan pihak ketiga seperti di daerah lain. Biaya pengiriman antarpulau yang tinggi membuat tidak ada distributor yang bersedia. Pemkab pun mengambil alih penyaluran langsung melalui DKPP. Pupuk disimpan di gudang yang telah disiapkan, lalu petani mengambil sendiri. Skema ini menjadi bentuk komitmen pemerintah agar pupuk tetap tersedia meski di pelosok kepulauan.
Menuju Pertanian Modern pada Semester II 2026
Pemkab Natuna mulai bersiap menerapkan program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) dari Kementerian Pertanian pada semester II 2026. Program ini akan memperkuat peningkatan indeks tanam dengan mendorong populasi tanaman lebih banyak per hektare. Penggunaan benih ditingkatkan dari sebelumnya 25 kilogram menjadi lebih tinggi, seiring target optimalisasi setiap jengkal lahan.
Meski lahan terbatas, langkah-langkah ini diharapkan terus mendorong swasembada pangan di Natuna, sekaligus menjadi model bagi daerah kepulauan lain di Indonesia.