KEPULAUAN RIAU — Elon Musk belum menonton film dokumenter Alex Gibney tentang dirinya, tapi ia sudah menyiapkan langkah hukum. Surat peringatan resmi dikirim pengacara Musk, Alex Spiro, kepada Adam Mellion dari Jigsaw Productions pada 3 September 2025, beberapa hari setelah film itu tayang perdana di Venice Film Festival.
Premier film berdurasi hampir empat jam tersebut mendapat standing ovation lima menit. Di sisi lain, Musk justru melontarkan kritik pedas lewat akun X miliknya, menyebut karya Gibney sebagai "false film" dan "hit piece" yang membosankan.
Isi Surat Peringatan Hukum
Spiro menyoroti satu bagian film yang ia nilai menuding Musk memakai satelit Starlink untuk memengaruhi pemilu presiden 2024 demi menguntungkan Donald Trump. Menurut Spiro, tudingan itu keliru dan sudah dibantah publik sejak November 2024.
"You are on notice, before release, that the insinuation is false, that the material refuting it is public, and that you chose not to be told the rest," tulis Spiro dalam suratnya.
Ia menegaskan Starlink tidak terhubung dengan proses tabulasi suara. Otoritas pemilu di sejumlah negara bagian, peneliti keamanan siber independen, dan pemeriksa fakta disebutnya sudah membantah klaim tersebut. "Defamation does not require an express accusation," tambah Spiro.
Klaim Ashley St. Clair di Dalam Film
Mantan pasangan Musk, Ashley St. Clair, muncul dalam film ini. Ia mengklaim Musk pernah berkata kepadanya sebelum pemilu bahwa ia akan "unleash the anomaly in the matrix" dan memiliki "10,000 lasers in space." Pernyataan itu menjadi salah satu materi yang dipersoalkan tim hukum Musk.
Spiro juga menuding Gibney tidak melibatkan tim Musk dalam proses verifikasi fakta. "This project did not begin as an inquiry. It began with a conclusion," tulisnya. Ia menyebut pihaknya sudah beberapa kali mencoba menghubungi produksi untuk menyampaikan fakta lewat mekanisme fact-checking standar jurnalisme etis, namun ditolak.
"We therefore have no choice but to put you on formal legal notice regarding your upcoming 'piece' and to reserve all rights," pungkas Spiro.
Respons Jigsaw Productions
Jigsaw Productions membalas lewat pernyataan resmi. Mereka membela rekam jejak Gibney yang disebut konsisten menghasilkan eksplorasi mendalam dan berbasis fakta tentang figur serta korporasi berpengaruh.
"Alex Gibney's films are consistently recognized for their in-depth, fact-driven explorations of influential figures and corporations, coupled with his bold and engaging directorial style," demikian pernyataan mereka.
Produksi juga menyinggung reputasi Gibney yang disebut The Times of London sebagai "gold standard for fearless journalistic integrity." Mereka menegaskan hak melakukan debat terbuka dan pemeriksaan berbasis fakta terhadap figur publik dilindungi Amandemen Pertama, sesuatu yang semestinya diakui semua warga Amerika, termasuk rekan-rekan Musk yang menyebut dirinya "free speech absolutist."
Musk vs Gibney Sejak 2023
Gibney sebenarnya sempat berupaya melibatkan Musk dalam film ini. Pada 2023, Musk memprediksi film tersebut akan jadi "hit piece." Gibney merespons singkat: "How would you know?"
Karena Musk menolak berpartisipasi, Gibney memakai avatar animasi untuk memerankan Musk. Avatar itu mengutip pernyataan-pernyataan yang benar-benar pernah diucapkan Musk.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Gibney mengatakan, "People assume because he's very rich that he's not crazy. But the terrifying thing might be that he's crazy and he's very rich and powerful. That's the warning bell the film sounds."
Capaian Awal dan Jadwal Rilis
Di Rotten Tomatoes, film ini mencatat 100 persen ulasan positif dari 12 kritik pertama. Ulasan The Hollywood Reporter menyebutnya sebagai "a poleaxing portrait of the tech titan as a con man given way too much power to be stopped" yang akan membuat penonton "simmering in outrage for 225 minutes."
Film dokumenter ini akan dirilis di bioskop terpilih pada Jumat, 16 Oktober. Polemik dengan Musk berpotensi menjadi promosi tak sengaja, mengingat narasi "film yang tidak ingin Elon lihat" cepat menyebar di media sosial.
Bagi industri dokumenter, konflik Musk-Gibney menambah daftar panjang benturan antara figur teknologi berpengaruh dan sineas investigatif di Amerika Serikat.