Pencarian

Harga Minyak Brent Bertahan di Bawah USD 100 per Barel meski Selat Hormuz Lumpuh, Ini Dua Faktor Peredamnya

Jumat, 10 Juli 2026 • 10:00:01 WIB
Harga Minyak Brent Bertahan di Bawah USD 100 per Barel meski Selat Hormuz Lumpuh, Ini Dua Faktor Peredamnya
Ketegangan di Selat Hormuz tidak mengerek harga minyak Brent di bawah USD 100 per barel.

KEPULAUAN RIAU — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menyerang tiga kapal komersial awal pekan ini. Militer AS membalas dengan gempuran udara yang menghantam 80 target pada Rabu dan 90 target tambahan pada Kamis. Namun, respons pasar keuangan global justru berbanding terbalik dengan eskalasi militer tersebut.

Harga minyak mentah jenis Brent tetap anteng dan tidak mampu menembus level USD 100 per barel. Minyak WTI AS sempat melonjak namun langsung loyo ke bawah tren rata-ratanya. Di Wall Street, investor justru ramai-ramai memborong saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sedang naik daun, seolah mengabaikan desing peluru kendali di kawasan Teluk.

Dua Faktor yang Membuat Dunia Kebal terhadap Guncangan Hormuz

Dan Alamariu, pakar strategi dari Alpine Macro yang merupakan bagian dari Oxford Economics, mengungkapkan ada dua faktor utama di balik ketahanan pasar ini. Pertama, dunia telah berhasil memetakan ulang jalur ekspor minyak di luar Selat Hormuz selama empat bulan masa krisis. Kedua, China sebagai importir minyak terbesar dunia mampu memangkas konsumsi energi domestik mereka jauh lebih cepat dari perkiraan, sehingga tidak terjadi rebutan pasokan.

"Dampak kerusakan ekonomi global ternyata jauh lebih kecil dari yang ditakuti sebelumnya. Dunia telah beradaptasi," tulis Alamariu dalam laporan risetnya.

Volume Pelayaran Merosot, Kapten Kapal Matikan Transponder

Data pelacakan kapal internasional dari Kpler menunjukkan volume pelayaran di Selat Hormuz anjlok drastis. Jika pada akhir Juni lalu pergerakan kapal sempat memuncak hingga 59 lintasan per hari, pekan ini angkanya merosot tajam hanya di kisaran belasan kapal. Banyak kapten kapal tanker memilih mematikan transponder radar mereka agar tidak terdeteksi rudal.

Anomali ini membuat para pakar ekonomi heran. Secara teori, kelumpuhan urat nadi energi dunia seharusnya memicu oil shock dan melambungkan harga minyak. Kenyataannya, pasar justru menunjukkan sikap yang sangat santai.

Pelajaran bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Respons pasar yang jinak ini mengirim sinyal bahwa arsitektur ekonomi global telah berubah secara fundamental. Ketergantungan pada satu titik rawan geopolitik seperti Selat Hormuz mulai terurai melalui diversifikasi rute dan efisiensi permintaan. Bagi investor Indonesia, situasi ini setidaknya meredakan kekhawatiran akan lonjakan biaya energi impor yang bisa menekan margin industri dan nilai tukar rupiah. Namun, para pelaku bisnis tetap perlu mencermati perkembangan lanjutan karena stabilitas harga minyak saat ini sangat bergantung pada dua faktor yang bisa berubah sewaktu-waktu: keberlangsungan rute alternatif dan konsistensi penurunan permintaan China.

Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks