TANJUNGPINANG — Guru IPA SMP Negeri 16 Tanjungpinang, Yolanda Farmin, mengaku perubahan signifikan terjadi di kelasnya sejak sekolah memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID). Siswa yang sebelumnya enggan maju ke depan kini mulai berani mencoba karena tertarik dengan konten pembelajaran yang beragam dan interaktif.
"Keaktifan anak mulai bertumbuh. Anak-anak yang biasanya tidak berani maju ke depan sekarang lebih ingin mencoba," kata Yolanda di Tanjungpinang, Senin.
Fitur Siap Pakai Ringankan Beban Guru
Yolanda menjelaskan, PID tidak hanya menarik minat siswa, tetapi juga meringankan tugasnya dalam menyiapkan materi ajar. Berbagai bahan yang tersedia di fitur Ruang GTK dan Ruang Murid pada PID bisa langsung dimanfaatkan sebagai referensi sesuai mata pelajaran.
"Sebagai guru, manfaat bagi saya pribadi adalah saya sudah punya media ajar yang siap pakai, sehingga sangat mempermudah guna menyiapkan pembelajaran," jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan PID tidak berhenti di ruang kelas. Tautan materi pelajaran bisa dibagikan kepada siswa, sehingga mereka dapat mengakses dan belajar secara mandiri dari rumah.
Konten Belum Merata, Guru Harap Semua Mapel Masuk Sistem
Meski demikian, Yolanda menyampaikan harapan agar konten pembelajaran di platform PID terus dikembangkan. Sebab, belum semua mata pelajaran ter-input di dalam sistem.
"Ada pesan dari beberapa guru, karena sejauh ini belum semua mata pelajaran ter-input di dalam sistem. Semoga ke depannya bisa semakin lengkap," ucap Yolanda.
Kepri Masih Butuh Ribuan Unit, Gubernur Ansar Koordinasi ke Pusat
Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengapresiasi bantuan PID dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sepanjang 2025, Kepri memperoleh 1.933 unit PID untuk SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Namun, kebutuhan di lapangan masih jauh dari cukup. Ansar menyebut provinsi ini masih membutuhkan sekitar 5.799 PID agar setiap kelas bisa memiliki satu unit untuk menunjang digitalisasi pembelajaran.
"Harapan kita tiap-tiap kelas punya satu PID untuk menunjang proses belajar dan mengajar siswa dengan sistem digitalisasi," ujar Ansar.
Pemerintah Provinsi Kepri terus berkoordinasi dengan Kemendikdasmen RI untuk merealisasikan kebutuhan tersebut, termasuk anggaran revitalisasi sekolah tingkat SMA/SMK pada tahun 2026.