KEPULAUAN RIAU — Suasana haru menyelimuti konferensi pers jelang laga pembuka Grup D Piala Dunia 2026 antara Paraguay dan Amerika Serikat di Stadion Los Angeles. Diego Gomez, gelandang muda Paraguay, mendadak kehilangan kata-kata dan menangis ketika ditanya soal makna turnamen ini bagi dirinya dan rakyat di kampung halaman.
Penantian 16 Tahun yang Berujung Tangis
Paraguay terakhir kali tampil di Piala Dunia pada edisi 2010 di Afrika Selatan. Absen tiga edisi beruntun membuat lolosnya skuad asuhan Gustavo Alfaro ke Amerika Utara tahun ini menjadi momen yang sangat emosional, baik bagi pemain maupun seluruh rakyat Paraguay.
“Ini adalah impian yang saya miliki sejak masih kecil: mewakili negara Anda di Piala Dunia. Saya sangat bahagia, sangat bersemangat,” ujar Gomez dalam pernyataan yang dilansir situs resmi FIFA. Namun, kalimatnya terputus saat ia mencoba menjelaskan besarnya ekspektasi yang dipikul.
Pelatih Alfaro: Itulah yang Kami Rasakan
“Saya adalah tipe pemain yang selalu tenang. Namun, jujur saja, saya sangat sadar betapa besarnya ekspektasi dan kegembiraan rakyat Paraguay terhadap kami,” lanjut Gomez sebelum akhirnya tersedak haru dan menangis di atas podium. Melihat pemainnya emosional, pelatih Gustavo Alfaro langsung merangkul pundak Gomez.
“Tidak perlu ada kata-kata lagi; itulah yang kami rasakan saat ini. Dan itulah yang dirasakan oleh seluruh rakyat Paraguay,” kata Alfaro membela pemainnya di hadapan para jurnalis.
Modal Sejarah dan Misi Balas Dendam
Bagi Alfaro, ini adalah Piala Dunia keduanya setelah sukses membawa Ekuador di Qatar 2022. Ia menegaskan mentalitas anak asuhnya sudah terbentuk kokoh. Paraguay dikenal sebagai lawan yang menyulitkan dan kerap menjadi “kerikil tajam” di ajang Piala Dunia.
“Kami datang dengan antusiasme tinggi; kami datang dengan determinasi penuh untuk membuktikan diri. Niat kami bukan sekadar untuk datang dan berpartisipasi, melainkan untuk bertarung secara kompetitif,” tegas Alfaro. Paraguay juga mengusung misi balas dendam setelah kalah dalam laga uji coba terakhir melawan AS pada November lalu.
Energi Positif untuk Laga Pembuka
Pelatih asal Argentina itu menyebut kelolosan ke Piala Dunia 2026 sebagai momen pemenuhan takdir yang penuh sukacita. “Kami tahu betapa negara kami sangat membutuhkan ini, dan bagaimana perjuangan berat yang harus dilalui para pemain,” tambahnya. Kini, seluruh skuad bertekad mengonversi luapan emosi menjadi energi positif untuk menumbangkan sang co-host di laga pembuka.