KEPULAUAN RIAU — Koordinator PKPE UGM, Alva Edy Tontowi, mengumumkan kesimpulan akhir penelitian di Fakultas Teknik UGM, Sleman, Sabtu (13/6). Berdasarkan prinsip segitiga api dan data lapangan, tim menyatakan medan elektromagnetik di lokasi berada pada level aman, tidak ada anomali termal, dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri pada suhu kamar.
"Yang berarti bukan pemantik nyala api; sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai); tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," kata Alva membacakan kesimpulan penelitian.
Jejak Resin PVC pada Sampel Dinding dan Kayu
Pada Jumat (12/6), tim mengambil sampel residu kebakaran dari permukaan dinding keramik, kayu, dan tripleks di rumah Fia. Analisis menggunakan metode FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) menunjukkan kandungan poly vinyl chloride (PVC) yang tidak lazim berada di material tersebut.
Alva menjelaskan, PVC yang terbakar akan menghasilkan gas Hidrogen Klorida (HCl). Gas ini terdeteksi oleh sensor hidrogen pada alat detektor gas karena fenomena cross sensitivity, sehingga alat sempat salah membaca sebagai gas hidrogen (H2).
"Gas hidrogen klorida yang memiliki atom hidrogen di dalam molekulnya akan membuat elektroda sensor hidrogen bereaksi dan alat seolah membaca ada gas hidrogen," ujar Alva.
Dari 125 Kali Kebakaran hingga Penelitian Tuntas
Fenomena api misterius di rumah Fia pertama kali muncul 21 hari sebelum Kamis (11/6). Hingga hari itu, Fia melaporkan kebakaran berulang telah terjadi sebanyak 125 kali. Peristiwa ini menarik perhatian para peneliti dari UGM, UPN 'Veteran' Yogyakarta, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tiga senyawa sempat menjadi dugaan awal pemicu api: gas metana (CH4), gas hidrogen (H2), dan gas fosfin (PH3). Tim UGM sebelumnya telah mengerahkan unit georadar untuk mendeteksi retakan bawah tanah serta metode geolistrik untuk memetakan lapisan batuan. Sementara itu, tim UPN melakukan penelitian geomagnetik guna mencari jenis batuan ultrabasa dan vulkanik yang bisa membentuk gas hidrogen.
Hasil Penelitian Diserahkan ke BPBD Sleman
Dengan temuan resin PVC ini, PKPE UGM menyatakan penelitian mereka telah tuntas. Selanjutnya, tim menyerahkan seluruh hasil investigasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk ditindaklanjuti.
"Tim menemukan data lanjutan bahwa api yang membakar material di rumah Fia kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition). Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berdasarkan pengujian metoda FTIR," jelas Alva.