BATAM — Angka 98,43 persen untuk indeks inklusi keuangan Kepulauan Riau bukanlah garis akhir. Kepala OJK Provinsi Kepulauan Riau Sinar Danandjaya justru menyebutnya sebagai garis start untuk memastikan masyarakat tidak sekadar punya akses, tetapi benar-benar memahami produk keuangan yang digunakan.
Hasil SNLIK 2026 menempatkan Kepri di peringkat ketiga nasional untuk inklusi keuangan dan peringkat keempat untuk literasi keuangan. Indeks literasi daerah mencapai 78,29 persen, sementara rata-rata nasional hanya 69,57 persen.
Akses Sudah Luas, Pemahaman Jadi Tantangan Berikutnya
"Sebesar 98,43 persen bukan garis finish. Justru itu adalah garis start," ujar Sinar dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Kamis.
Menurut Sinar, ketika hampir seluruh masyarakat telah terjangkau layanan keuangan, tugas berikutnya adalah memastikan warga memahami manfaat, risiko, biaya, hak, dan kewajiban mereka. OJK Kepri mendorong masyarakat agar tidak hanya financially included, tetapi juga financially empowered.
Artinya, akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan harus benar-benar memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan, bukan sekadar angka kepemilikan rekening atau produk keuangan semata.
Kredit Bank Umum Tembus Rp118 Triliun, Tumbuh 38 Persen
Capaian literasi tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Kepri yang mencapai 6,99 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera.
Sampai dengan Juni 2026, kredit Bank Umum di Kepri mencapai sekitar Rp118 triliun, tumbuh sekitar 38 persen secara tahunan. Kualitas kredit tetap terjaga di tengah ekspansi pembiayaan tersebut.
Sementara itu, kredit Badan Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah tercatat sekitar Rp11,1 triliun atau tumbuh 10,74 persen secara year-on-year.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Dijawab Pembiayaan Produktif
Sinar menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah perlu direspons industri jasa keuangan melalui penyaluran pembiayaan yang sehat dan produktif. Ia menilai kredit bukan sekadar angka di neraca perbankan.
"Di balik kredit ada investasi, usaha yang berkembang, lapangan kerja, dan kesejahteraan keluarga," kata Sinar.
OJK Kepri mendorong seluruh industri jasa keuangan memperkuat pembiayaan produktif, memperluas pelindungan konsumen, serta menjaga integritas dan stabilitas sektor jasa keuangan. Ukuran keberhasilan sektor ini, menurut Sinar, tidak hanya seberapa besar aset dan kredit tumbuh.
"Tetapi juga seberapa besar kontribusinya terhadap investasi, UMKM naik kelas, lapangan kerja, pelindungan risiko, dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.