KEPULAUAN RIAU — Lahirnya IBMA menjawab kebutuhan mendesak akan sebuah wadah yang mampu menyatukan pelaku industri emas dari hulu ke hilir. Selama ini, Indonesia dengan produksi emas mencapai 104 ton pada 2025—menempatkannya di posisi ke-10 dunia—belum memiliki standar industri yang seragam dan lembaga yang menjadi penghubung antara regulator dengan para pemain usaha.
Peresmian asosiasi ini dilakukan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di BSI Tower, disaksikan oleh para direktur utama dari 11 perusahaan pendiri. Kehadiran asosiasi ini dinilai strategis untuk mentransformasi Indonesia dari sekadar negara produsen emas menjadi pusat perdagangan bullion atau bullion hub di kawasan regional.
Katalis Ekosistem Emas Nasional
Selfie Dewiyanti menegaskan bahwa IBMA dirancang menjadi platform utama bagi seluruh pelaku industri untuk membangun pasar bullion yang kredibel, kompetitif, dan berstandar internasional.
"Dengan ekosistem yang semakin kuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pegadaian telah menyiapkan kantor sekretariat dan ruang rapat IBMA di lantai dua Pegadaian Tower. Kawasan ini dipilih karena telah berkembang menjadi pusat ekosistem emas nasional dengan berbagai fasilitas terintegrasi, mulai dari layanan Bullion Pegadaian, vault berstandar internasional, ATM Emas, Galeri 24, G-Lab, hingga pusat lelang emas.
Modal Besar: 170 Ton Emas dan Dukungan Presiden
Pembentukan IBMA beriringan dengan kinerja positif layanan Bank Emas yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Setelah berjalan satu tahun, bank bullion di Indonesia telah mengelola lebih dari 170 ton emas, dan dari jumlah tersebut, Pegadaian mengelola porsi terbesar yakni 153 ton.
Capaian itu mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026. Presiden menilai Bank Emas Indonesia menjadi terobosan strategis yang mampu mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Anggota IBMA sendiri terdiri dari deretan pemain besar industri, antara lain PT Pegadaian (Persero), Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi Mondial, Frank & co. dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.
Menopang Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pengembangan pasar bullion ini bukan sekadar agenda industri, melainkan bagian dari transformasi ekonomi nasional untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Langkah ini sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah melalui penguatan hilirisasi dan pemanfaatan sumber daya nasional secara optimal.
Dengan fondasi geologis yang kuat dan dukungan regulasi yang semakin matang, kehadiran IBMA diharapkan mampu mengisi celah yang selama ini kosong: menjadi mitra strategis regulator sekaligus jembatan bagi seluruh pemangku kepentingan di rantai industri emas, dari sektor pertambangan, jasa keuangan, pemurnian atau refinery, manufaktur, hingga berbagai layanan pendukung bisnis lainnya.
Langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih percaya diri untuk bersaing dengan pusat perdagangan emas global lainnya, dengan modal pengelolaan emas yang telah terbukti dan asosiasi yang siap menjadi motor penggeraknya.