BATAM — Angka investasi yang melampaui target ini mendorong pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen. Amsakar menegaskan bahwa realisasi tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan kepercayaan investor terhadap ekosistem yang tengah dibangun di kota industri tersebut.
“Capaian ini bukan hanya angka. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekosistem yang sedang kami bangun di Batam,” kata Amsakar, belum lama ini.
Sektor Digital dan Energi Dominasi Investasi
Sektor jasa yang mencakup digitalisasi menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi Rp 9,99 triliun. Disusul sektor industri mesin, elektronik, dan peralatan listrik senilai Rp 6,08 triliun. Sektor listrik, gas, dan air mencatatkan investasi sebesar Rp 5,80 triliun, menandakan besarnya minat investor di bidang infrastruktur energi, termasuk energi terbarukan.
Khusus untuk sektor digital, investasi mencapai Rp 8,557 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh berkembangnya Nongsa Digital Park (NDP) sebagai episentrum kegiatan teknologi dan pusat data di Batam. Amsakar menyebut kehadiran data centre dan infrastruktur digital bukan sekadar tren sesaat.
“Nongsa Digital Park menjadi indikator awal yang positif karena menunjukkan adanya minat investasi, kemitraan lintas negara, serta tumbuhnya aktivitas di bidang data center, pengembangan teknologi, dan ekonomi digital,” tambahnya.
Singapura hingga AS Aktif, Penyerapan Tenaga Kerja Meningkat
Selain Singapura sebagai investor dominan, negara-negara seperti Hong Kong, Amerika Serikat, dan Malaysia juga tercatat aktif berinvestasi di sektor digital Batam. Amsakar menjelaskan, daya tarik Batam bukan semata soal efisiensi biaya, melainkan kombinasi faktor strategis: kedekatan geografis dengan Singapura, konektivitas cepat, dan peluang model operasi lintas batas.
Penyerapan tenaga kerja di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa pada triwulan keempat 2025 tercatat 836 orang. Dampak tidak langsung diperkirakan jauh lebih luas melalui rantai pasok dan layanan pendukung.
Energi Hijau Jadi Syarat Investasi Global
Di tengah booming data centre yang membutuhkan pasokan listrik besar dan andal, BP Batam mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan solusi energi hijau. Amsakar menegaskan, pertumbuhan digital tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Integrasi energi terbarukan menjadi roadmap pengembangan kawasan agar Batam mampu memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Transformasi digital kita nyata. Kami (BP Batam) berkomitmen menjadikan Batam sebagai lokasi investasi yang kompetitif, terukur, dan investor-friendly, khususnya untuk sektor digital yang berkelanjutan,” kata dia.
Bukan Kompetisi, Tapi Komplementaritas dengan Johor-Singapura
Menanggapi kemunculan Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) yang juga membidik pasar data centre dan ekonomi digital, Amsakar menolak framing persaingan. Ia justru melihat peluang membangun komplementaritas.
“Kami melihat ini bukan sekadar kompetisi, melainkan peluang membangun komplementaritas. Singapura kuat sebagai pusat HQ dan layanan global; Johor menawarkan perluasan kapasitas; dan Batam memiliki karakteristik unik seperti FTZ/SEZ, ekosistem industri, maritim-logistik, serta kedekatan operasional dengan Singapura,” ujarnya.
Dalam visi BP Batam, kawasan ini dapat membentuk regional digital and industrial corridor yang terintegrasi, di mana data centre dan aktivitas digital tersebar dalam model jaringan sesuai kebutuhan efisiensi dan operasional bisnis.
Apple Academy hingga Platform MANTAB untuk SDM Lokal
BP Batam juga berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia. Lewat NDP, program seperti Apple Academy, IBM Hybrid Cloud Academy, RMIT University, dan Epic Games telah hadir untuk mencetak talenta digital lokal. Terbaru, BP Batam meluncurkan platform MANTAB pada 8 Desember 2025, sebuah sistem job matching berbasis digital yang dirancang untuk menghubungkan ketersediaan SDM dengan kebutuhan industri secara langsung dan terintegrasi.